“…Teriring senyum ikhlas dari penjual martabak dan rotijala di pinggir jalan Tikungan 30. Kata pertama sebuah puisi lahir tepat jam 12 malam. Kata itu adalah: Paham…”
Apakah yang telah dibuat jelas?
Keterangan semalam tentang malam-malam sebelumnya?
Keterusterangan? Sepertinya bukan..
kerna tiada yang terang terus
kecuali para bidari dan malekah
dan kau bukan keduanya.
Aku, pria brengsek biasa
yang mencuri mawar di kebun terlarang
lalu dimaklumi,
kerna aku melakukannya atas dorongan hati.
Jika kau paham, berbahagialah..
Biarlah gurau-tawa siang hari
dijabarkan sebagai resep untuk makan malam
semangkuk bakso atau sepiring opor ayam.
Dalam keterkanyutan ini..
Aku bersyukur pada 2 hal:
Kedekatan yang tidak mengancam, dan
Jarak yang tidak memisahkan.
Kita sudah kuyup menyatu dalam rasa,
tanpa mau tahu segala aturan.
haay hay.. aku anak nakal yg mesti dihukum dengan cambuk rotan!
No comments:
Post a Comment