Derap terantuk sepihan daun kuning
Dari samping, semilir angin membawa debu:
terasa tajam mengiris dekik samar di pipi;
Kala kabut menggantung di pelupuk mata.
Ajakan demi ajakan mencengkeram leher
Membuat sulit untuk mengangguk dengan wajar;
Sukar untuk mengucap selamat
Kala belati tajam membayang di balik jubah
bernama Kongsi: semacam persetujuan
untuk saling mengikat lengan di belakang;
memasang senyum pada sudut sesuai perhitungan
Setiap hari, dalam ketergesaan memburu titik
hanya untuk bertemu koma demi koma demi…,
Setiap hembus nafas
lahir sebagai usaha perimbangan
Semata kerna..
belum jua saatnya untuk berhenti hadir
.,.,., ;
-- Sekerumunan penumpang di halte sempit
di musim penghujan --
No comments:
Post a Comment