Saturday, August 15, 2009

Menjumpai Titik Koma

Derap terantuk sepihan daun kuning

Dari samping, semilir angin membawa debu:

terasa tajam mengiris dekik samar di pipi;

Kala kabut menggantung di pelupuk mata.

Ajakan demi ajakan mencengkeram leher

Membuat sulit untuk mengangguk dengan wajar;

Sukar untuk mengucap selamat

Kala belati tajam membayang di balik jubah

bernama Kongsi: semacam persetujuan

untuk saling mengikat lengan di belakang;

memasang senyum pada sudut sesuai perhitungan

Setiap hari, dalam ketergesaan memburu titik

hanya untuk bertemu koma demi koma demi…,

Setiap hembus nafas
lahir sebagai usaha perimbangan

    di titik nadir

Semata kerna..

belum jua saatnya untuk berhenti hadir

.,.,.,   ;


-- Sekerumunan penumpang di halte sempit

di musim penghujan --



No comments: