"Untuk para Ibu yang kukuh..."
Keringat dingin membasahi wajah pucat
Darah menetes dari pangkal tungkai..
Seorang wanita, menjerit menahan sakit:
Bapa! Bapa! Di mana kau kini?!!
Sudah sekian jam, masih di bukaan lama..
Para perawat jaga mengangkat
sebelah tangan ke udara
Seraya berkata dalam gusar:
Hail Caesar! Hail Caesar!
Sang Kepala Perawat, digdaya mendekat
Mengusap rambut wanita itu, menenangkan:
Mari, kita tunggu sebentar lagi, mungkin
Si jabang sedang berdandan.
Senyumnya teduh, meredakan gemuruh..
Tak lama tapi,
Wanita itu menjerit lagi:
Bapa! Bapa! Di mana kau kini?!!
Di bilik doa. Bapak sedang berlutut
Khusyuk; Berpadu untai rosario.
Bulir demi
Bullir..
Tetes demi
Tetes..
Bulir..
Tetes..
Kembali, wanita itu menjerit tak tertahan:
Bapa! Bapa! Seharusnya kau genggam tangan ini!!!
Monday, April 12, 2010
Monday, March 29, 2010
Kupas Bawang
"...And then, she stops; Takes a deep breath, and trying hard to feel at home with the surrounding she now in. The pictures that hung on the wall, those sepia serenades, atone the atmosphere with the hues of self-romanticism. Swarm of flies flying around a bucket of stale rice on the dinner table. Smell of disintegration almost everywhere; felt, and hard to forget..."
---------------------------------------------------------- Rancangan Novel Indra Afriza, 'Before I Die'.
Kupaslah bawang, lalu sebar di antara
Daun pintu, daun jendela,
dan daun-daun kering
Pada sebuah wadah maya..
Berhenti menguar kata 'Mengapa?'
Mulai saat ini sampai singgasana tiba
Kupaslah itu bawang,
dan jangan memusingkan tujuannya.
Sebarkan, dan lihat dia menerkam
Semua keraguan di badai kalam.
---------------------------------------------------------- Rancangan Novel Indra Afriza, 'Before I Die'.
Kupaslah bawang, lalu sebar di antara
Daun pintu, daun jendela,
dan daun-daun kering
Pada sebuah wadah maya..
Berhenti menguar kata 'Mengapa?'
Mulai saat ini sampai singgasana tiba
Kupaslah itu bawang,
dan jangan memusingkan tujuannya.
Sebarkan, dan lihat dia menerkam
Semua keraguan di badai kalam.
Kata-Kata Di Beranda
Apalagi yang hendak diperkatakan? Kala
Keberadaan hanya tanda perulangan hari
Apa pun yang dibenamkan
paksa. Tak lagi mengentak nadi
Laju perihal kan terus mengalir
Bergegas dan saling berkejaran
Sampai terlempar ke sudut
Lupa untuk benar-benar berkenalan
Apalagi yang hendak diperkatakan? Kala
Keranda kata-kata diusung di beranda.
Keberadaan hanya tanda perulangan hari
Apa pun yang dibenamkan
paksa. Tak lagi mengentak nadi
Laju perihal kan terus mengalir
Bergegas dan saling berkejaran
Sampai terlempar ke sudut
Lupa untuk benar-benar berkenalan
Apalagi yang hendak diperkatakan? Kala
Keranda kata-kata diusung di beranda.
Sunday, March 28, 2010
BIJI KETAPANG
Hanya makanan biasa; campuran tepung, telur dan gula. Disepuh pengembang, dipotong memanjang. Garam pun sila hadir, secukupnya. Wajan, dengan minyak panas bergolak, sambut pematangannya. Nikmat disantap hangat, pun jika disimpan sejenak -dalam wadah bertutup rapat. Biasa, seperti penganan pada umumnya.
Namun sore ini, rasanya menjadi begitu istimewa. Dihantarkan oleh sepasang pualam gading, diiring tatap telaga bening dengan kedalaman tak terduga, dan kelembutan nada harpa nirwana melantun serangkai kata: “Silakan... Mas,”
Jantungku dadak melonjak, entah jatuh di mana.
Namun sore ini, rasanya menjadi begitu istimewa. Dihantarkan oleh sepasang pualam gading, diiring tatap telaga bening dengan kedalaman tak terduga, dan kelembutan nada harpa nirwana melantun serangkai kata: “Silakan... Mas,”
Jantungku dadak melonjak, entah jatuh di mana.
Subscribe to:
Comments (Atom)