Puisi Afriza
Monday, April 12, 2010
Doa Tanpa Genggaman
Keringat dingin membasahi wajah pucat
Darah menetes dari pangkal tungkai..
Seorang wanita, menjerit menahan sakit:
Bapa! Bapa! Di mana kau kini?!!
Sudah sekian jam, masih di bukaan lama..
Para perawat jaga mengangkat
sebelah tangan ke udara
Seraya berkata dalam gusar:
Hail Caesar! Hail Caesar!
Sang Kepala Perawat, digdaya mendekat
Mengusap rambut wanita itu, menenangkan:
Mari, kita tunggu sebentar lagi, mungkin
Si jabang sedang berdandan.
Senyumnya teduh, meredakan gemuruh..
Tak lama tapi,
Wanita itu menjerit lagi:
Bapa! Bapa! Di mana kau kini?!!
Di bilik doa. Bapak sedang berlutut
Khusyuk; Berpadu untai rosario.
Bulir demi
Bullir..
Tetes demi
Tetes..
Bulir..
Tetes..
Kembali, wanita itu menjerit tak tertahan:
Bapa! Bapa! Seharusnya kau genggam tangan ini!!!
Monday, March 29, 2010
Kupas Bawang
---------------------------------------------------------- Rancangan Novel Indra Afriza, 'Before I Die'.
Kupaslah bawang, lalu sebar di antara
Daun pintu, daun jendela,
dan daun-daun kering
Pada sebuah wadah maya..
Berhenti menguar kata 'Mengapa?'
Mulai saat ini sampai singgasana tiba
Kupaslah itu bawang,
dan jangan memusingkan tujuannya.
Sebarkan, dan lihat dia menerkam
Semua keraguan di badai kalam.
Kata-Kata Di Beranda
Keberadaan hanya tanda perulangan hari
Apa pun yang dibenamkan
paksa. Tak lagi mengentak nadi
Laju perihal kan terus mengalir
Bergegas dan saling berkejaran
Sampai terlempar ke sudut
Lupa untuk benar-benar berkenalan
Apalagi yang hendak diperkatakan? Kala
Keranda kata-kata diusung di beranda.
Sunday, March 28, 2010
BIJI KETAPANG
Namun sore ini, rasanya menjadi begitu istimewa. Dihantarkan oleh sepasang pualam gading, diiring tatap telaga bening dengan kedalaman tak terduga, dan kelembutan nada harpa nirwana melantun serangkai kata: “Silakan... Mas,”
Jantungku dadak melonjak, entah jatuh di mana.
Sunday, December 06, 2009
Cungkup Cinta Cadar Ceria
Dulu, dan kini
hanya mengingatkan
pada suara hangat di kejauhan
Dulu, setidaknya, ada tawa yang tergelak lepas
Lalu kata-kata menusuk
Kerna ketidakpuasan
atau mungkin ketersinggungan
merubahnya menjadi mati rasi
seperti jeda sunyi
pada ledakan bintang terakhir
Senja pun berganti kelam
malam melarut semua canda
saatnya mengakui: siapa tetap siapa.
Dua titik: yang bahkan
belum sempat bersentuhan
dari Hakim Satu Mata
seperti lanun Melaka
menjatuhkan jangkar batu
Patok! Tak sudi lagi melaju nada
Hilang.. seperti samar kabut,
gradasi warna pucat
dari jejingga madya;
Sirna.. seperti tak pernah ada
Tapi pernah, syukurlah..
ada pelangi di satu hari
pernah berkata:
"Mari bertukar cerita,"
Di satu senja, yang kini
sudah tak teraba rimbanya.
Saturday, August 15, 2009
Menjumpai Titik Koma
Derap terantuk sepihan daun kuning
Dari samping, semilir angin membawa debu:
terasa tajam mengiris dekik samar di pipi;
Kala kabut menggantung di pelupuk mata.
Ajakan demi ajakan mencengkeram leher
Membuat sulit untuk mengangguk dengan wajar;
Sukar untuk mengucap selamat
Kala belati tajam membayang di balik jubah
bernama Kongsi: semacam persetujuan
untuk saling mengikat lengan di belakang;
memasang senyum pada sudut sesuai perhitungan
Setiap hari, dalam ketergesaan memburu titik
hanya untuk bertemu koma demi koma demi…,
Setiap hembus nafas
lahir sebagai usaha perimbangan
Semata kerna..
belum jua saatnya untuk berhenti hadir
.,.,., ;
-- Sekerumunan penumpang di halte sempit
di musim penghujan --
Monday, June 01, 2009
Paham
“…Teriring senyum ikhlas dari penjual martabak dan rotijala di pinggir jalan Tikungan 30. Kata pertama sebuah puisi lahir tepat jam 12 malam. Kata itu adalah: Paham…”
Apakah yang telah dibuat jelas?
Keterangan semalam tentang malam-malam sebelumnya?
Keterusterangan? Sepertinya bukan..
kerna tiada yang terang terus
kecuali para bidari dan malekah
dan kau bukan keduanya.
Aku, pria brengsek biasa
yang mencuri mawar di kebun terlarang
lalu dimaklumi,
kerna aku melakukannya atas dorongan hati.
Jika kau paham, berbahagialah..
Biarlah gurau-tawa siang hari
dijabarkan sebagai resep untuk makan malam
semangkuk bakso atau sepiring opor ayam.
Dalam keterkanyutan ini..
Aku bersyukur pada 2 hal:
Kedekatan yang tidak mengancam, dan
Jarak yang tidak memisahkan.
Kita sudah kuyup menyatu dalam rasa,
tanpa mau tahu segala aturan.
haay hay.. aku anak nakal yg mesti dihukum dengan cambuk rotan!
Sunday, February 01, 2009
ATTA
Lembar 1: Catatan Harian Kei
Beberapa tahun ini, aku berkhayal
sebagai seorang putri. Tinggal di istana
luas, tinggi, sunyi..
Tanpa Raja, Ratu, dayang, rakyat,
musuh atau sahabat..
dan, jika memandangi cermin, bahkan
Diriku tak terlihat di sana..
Lalu khayalan ini untuk siapa?
Aku bertanya-tanya
tiap kali kesadaran menggigit mata.
(Mungkin di seberang sana,
ada seseorang yang memahami
apa arti semua keluasan alam khayal ini
Adakah? Aku menanti..)
Lembar 2: Oda Mata Lusuh
‘Kau memang seorang putri
Berkah bagi kedua orangtua ;
Bila pun dinding itu bilah bambu sahaja
Kerajaan kalbu indah tak terperi.’
Melihat dukamu yang meracuni
alam pikirmu dan kuasai ‘tiap langkah
Aku tersentak! Gemas dan bergegas..
Tanganku gemetar mengetuki dinding maya
Mengulurkan ke arahmu
Sebuah undangan untuk bersetubuh
tanpa nista, tanpa tanya: kenapa mesti ada?
Kita memang ada.
Jalanilah adanya.