Monday, April 12, 2010

Doa Tanpa Genggaman

"Untuk para Ibu yang kukuh..."

Keringat dingin membasahi wajah pucat
Darah menetes dari pangkal tungkai..
Seorang wanita, menjerit menahan sakit:
Bapa! Bapa! Di mana kau kini?!!

Sudah sekian jam, masih di bukaan lama..

Para perawat jaga mengangkat
sebelah tangan ke udara
Seraya berkata dalam gusar:
Hail Caesar! Hail Caesar!

Sang Kepala Perawat, digdaya mendekat
Mengusap rambut wanita itu, menenangkan:
      Mari, kita tunggu sebentar lagi, mungkin
Si jabang sedang berdandan.

Senyumnya teduh, meredakan gemuruh..

Tak lama tapi,
Wanita itu menjerit lagi:
Bapa! Bapa! Di mana kau kini?!!

Di bilik doa. Bapak sedang berlutut
Khusyuk; Berpadu untai rosario.

Bulir demi
Bullir..

Tetes demi
Tetes..

Bulir..

Tetes..

Kembali, wanita itu menjerit tak tertahan:
Bapa! Bapa! Seharusnya kau genggam tangan ini!!!

Monday, March 29, 2010

Kupas Bawang

"...And then, she stops; Takes a deep breath, and trying hard to feel at home with the surrounding she now in. The pictures that hung on the wall, those sepia serenades, atone the atmosphere with the hues of self-romanticism. Swarm of flies flying around a bucket of stale rice on the dinner table. Smell of disintegration almost everywhere; felt, and hard to forget..."
---------------------------------------------------------- Rancangan Novel Indra Afriza, 'Before I Die'.


Kupaslah bawang, lalu sebar di antara
Daun pintu, daun jendela,
dan daun-daun kering
Pada sebuah wadah maya..

Berhenti menguar kata 'Mengapa?'
Mulai saat ini sampai singgasana tiba
Kupaslah itu bawang,
dan jangan memusingkan tujuannya.

Sebarkan, dan lihat dia menerkam
Semua keraguan di badai kalam.

Kata-Kata Di Beranda

Apalagi yang hendak diperkatakan? Kala
Keberadaan hanya tanda perulangan hari

Apa pun yang dibenamkan
paksa. Tak lagi mengentak nadi

Laju perihal kan terus mengalir
Bergegas dan saling berkejaran
Sampai terlempar ke sudut
Lupa untuk benar-benar berkenalan

Apalagi yang hendak diperkatakan? Kala
Keranda kata-kata diusung di beranda.

Sunday, March 28, 2010

Saputangan Buat Triwi

Buat yang punya nama Tri Wihastuti, dan pernah tinggal di Jagakarsa, Pasar Minggu, Jaksel.. lekes hubungi saya.. sekarang!

BIJI KETAPANG

Hanya makanan biasa; campuran tepung, telur dan gula. Disepuh pengembang, dipotong memanjang. Garam pun sila hadir, secukupnya. Wajan, dengan minyak panas bergolak, sambut pematangannya. Nikmat disantap hangat, pun jika disimpan sejenak -dalam wadah bertutup rapat. Biasa, seperti penganan pada umumnya.

Namun sore ini, rasanya menjadi begitu istimewa. Dihantarkan oleh sepasang pualam gading, diiring tatap telaga bening dengan kedalaman tak terduga, dan kelembutan nada harpa nirwana melantun serangkai kata: “Silakan... Mas,”

Jantungku dadak melonjak, entah jatuh di mana.

Sunday, December 06, 2009

Cungkup Cinta Cadar Ceria

Yah, dia (pernah) berkata: senja ini untuk kita
Dulu, dan kini
hanya mengingatkan
pada suara hangat di kejauhan

Dulu, setidaknya, ada tawa yang tergelak lepas
Lalu kata-kata menusuk
Kerna ketidakpuasan
atau mungkin ketersinggungan
merubahnya menjadi mati rasi
seperti jeda sunyi
pada ledakan bintang terakhir

Senja pun berganti kelam
malam melarut semua canda
saatnya mengakui: siapa tetap siapa.

Dua titik: yang bahkan
belum sempat bersentuhan
dari Hakim Satu Mata
seperti lanun Melaka
menjatuhkan jangkar batu
Patok! Tak sudi lagi melaju nada

Hilang.. seperti samar kabut,
gradasi warna pucat
dari jejingga madya;
Sirna.. seperti tak pernah ada

Tapi pernah, syukurlah..
ada pelangi di satu hari
pernah berkata:
"Mari bertukar cerita,"
Di satu senja, yang kini
sudah tak teraba rimbanya.

Saturday, August 15, 2009

Menjumpai Titik Koma

Derap terantuk sepihan daun kuning

Dari samping, semilir angin membawa debu:

terasa tajam mengiris dekik samar di pipi;

Kala kabut menggantung di pelupuk mata.

Ajakan demi ajakan mencengkeram leher

Membuat sulit untuk mengangguk dengan wajar;

Sukar untuk mengucap selamat

Kala belati tajam membayang di balik jubah

bernama Kongsi: semacam persetujuan

untuk saling mengikat lengan di belakang;

memasang senyum pada sudut sesuai perhitungan

Setiap hari, dalam ketergesaan memburu titik

hanya untuk bertemu koma demi koma demi…,

Setiap hembus nafas
lahir sebagai usaha perimbangan

    di titik nadir

Semata kerna..

belum jua saatnya untuk berhenti hadir

.,.,.,   ;


-- Sekerumunan penumpang di halte sempit

di musim penghujan --



Monday, June 01, 2009

Paham

“…Teriring senyum ikhlas dari penjual martabak dan rotijala di pinggir jalan Tikungan 30. Kata pertama sebuah puisi lahir tepat jam 12 malam. Kata itu adalah: Paham…”

Apakah yang telah dibuat jelas?
   Keterangan semalam tentang malam-malam sebelumnya?
   Keterusterangan? Sepertinya bukan..
   kerna tiada yang terang terus
kecuali para bidari dan malekah
dan kau bukan keduanya.

Aku, pria brengsek biasa
yang mencuri mawar di kebun terlarang
lalu dimaklumi,
kerna aku melakukannya atas dorongan hati.

Jika kau paham, berbahagialah..
Biarlah gurau-tawa siang hari
dijabarkan sebagai resep untuk makan malam
   semangkuk bakso atau sepiring opor ayam.

Dalam keterkanyutan ini..
Aku bersyukur pada 2 hal:
   Kedekatan yang tidak mengancam, dan
   Jarak yang tidak memisahkan.

Kita sudah kuyup menyatu dalam rasa,
tanpa mau tahu segala aturan.

haay hay.. aku anak nakal yg mesti dihukum dengan cambuk rotan!

Sunday, February 01, 2009

ATTA

Lembar 1: Catatan Harian Kei

Beberapa tahun ini, aku berkhayal
sebagai seorang putri. Tinggal di istana
luas, tinggi, sunyi..
Tanpa Raja, Ratu, dayang, rakyat,
musuh atau sahabat..
dan, jika memandangi cermin, bahkan
Diriku tak terlihat di sana..
Lalu khayalan ini untuk siapa?
Aku bertanya-tanya
tiap kali kesadaran menggigit mata.

(Mungkin di seberang sana,
ada seseorang yang memahami
apa arti semua keluasan alam khayal ini
Adakah? Aku menanti..)

Lembar 2: Oda Mata Lusuh

‘Kau memang seorang putri
Berkah bagi kedua orangtua ;
Bila pun dinding itu bilah bambu sahaja
Kerajaan kalbu indah tak terperi.’

Melihat dukamu yang meracuni
alam pikirmu dan kuasai ‘tiap langkah
Aku tersentak! Gemas dan bergegas..

Tanganku gemetar mengetuki dinding maya
Mengulurkan ke arahmu
Sebuah undangan untuk bersetubuh
tanpa nista, tanpa tanya: kenapa mesti ada?

Kita memang ada.
Jalanilah adanya.